Simple and Powerful
Tersenyum, betapa mudahnya hal ini dilakukan. Hanya butuh sedetik untuk merubah bentuk bibir menjadi senyum. Dan hanya butuh tujuh detik mempertahankan sang senyum untuk terlihat sebagai ungkapan ketulusan hati.
Tetapi kenapa hal sederhana ini jarang terlihat? Wajah-wajah di jalan, di angkutan umum, di kantin, di kantor, bahkan di tempat wisata yang seharusnya menjadi kebun senyum, justru terlihat buram. Kerutan-kerutan di wajah menunjukkan betapa berat beban yang harus ditanggung wajah-wajah itu. Banyak wajah yang daerah diantara dua matanya mengkerut. Menyeramkan dan tampak garang. Duh...
Senyum itu sudah hilang dari wajah banyak orang. Entah kenapa senyum – bahkan tawa – yang selalu cerah menghiasi wajah-wajah itu dari kecil, sirna begitu saja. Sekarang, bahkan bukan hanya wajah-wajah tua dan dewasa yang telah kehilangan senyum manis. Wajah para remaja dan anak-anak pun telah ketularan kerutan-kerutan penuh beban itu.
Senyum pada hakikatnya adalah salah satu anugerah indah dari Tuhan Yang Maha Indah. Tuhan sengaja menganugerahkan senyum sebagai bagian dari keindahan manusia. Sayang, anugerah indah ini, tidak banyak ditemui di wajah banyak manusia. Dunia akan jauh lebih indah bila penduduknya gemar tersenyum.
Hidup dan kehidupan manusia pun akan lebih indah dan menenteramkan bila kita menemui banyak senyum di sekeliling kita. Terutama sang senyum dari wajah kita sendiri. Bukankah sangat enak bila kita menerima senyum? Dan bukankah jauh lebih enak bila kita lah yang memberi senyum?
Saudara, senyum yang sederhana, mudah dan gratis itu ternyata menyimpan banyak keajaiban. Setidaknya dari berbagai pengalaman dalam hidup saya. Yap, dalam hidup saya, saya menemui banyak keajaiban. Bentuknya macam-macam. Ada kemudahan, kesehatan, kekayaan, kebaikan, solusi dan sebagainya dari sebuah senyuman.
Sang senyum – lengkungan yang menurut Pak Gede Prama bisa meluruskan banyak hal – adalah hal yang luar biasa. Ia seperti oase di tengah gurun pasir. Ia seperti setetes air jernih dari mata air yang bisa menghilangkan dahaga. Ia seperti udara bagi yang tercekik. Ia seperti sumbangan uang bagi fakir miskin yang dirawat di rumah sakit. Ia seperti mangga muda bagi ibu muda yang sedang ngidam. Ia seperti pinjaman uang bagi yang sedang membutuhkan. Ia juga seperti semangkuk mie instan bagi pengungsi yang kelaparan.
Senyum pada hakikatnya adalah kebutuhan manusia. Siapa yang senang tersenyum membuat jiwa, perasaan, pikiran dan fisiknya terpenuhi salah satu kebutuhannya. Bila manusia tidak senang tersenyum, ada luka di jiwa, rasa dan pikirnya. Sang jiwa yang terluka membuat hidup dipenuhi kegelisahan. Sang rasa yang terluka membuat hidup tidak tenang. Sang pikir yang terluka membuat hidup penuh beban.
Aturan Senyum Tulus
Senyum tulus ada aturannya? Ya, ada. Aturan ini saya dapat dari dua orang guru saya. Pertama Pak Jamil Azzaini. Kedua, Pak Amir Tengku Ramly. Pertama sekali, saya belajar dari Pak Jamil, bahwa senyum itu harus 227. Artinya senyum baru terlihat tulus dengan menarik bibir ke kanan 2 cm, ke kiri 2 cm, pertahankan minimal selama 7 detik. Bila kurang dari 7 detik, maka senyum itu akan kehilangan ketulusannya.
Aturan ini lalu disempurnakan oleh Pak Amir. Menurut Pak Amir, senyum itu harus 127. Angka satu artinya sang senyum harus lah berasal dan bertujuan untuk menyatukan hati. Hati yang memberi dan menerima senyum. Dengan begitu, senyum itu berperan sebagai pengikat dan jembatan antara satu diri dengan diri-diri yang lain. Sedang angka 2 dan 7, maknanya sama dengan aturannya Pak Jamil.
Itulah senyum saudara...
Ia sederhana, tapi dahsyat luar biasa.
Ia kecil, tapi bermakna raksasa.
Ia mudah, tapi sangat berharga.
Karenanya,....
Tersenyum lah saudara
Nikmati keajaiban-keajaiban dalam hidup anda.
Dan...
Bagikanlah keajaiban bagi hidup sesama kita.
< di kutip dari postingan supardi lee >
Rabu, 27 Januari 2010
Tips untuk Menghindari Kemalasan
Rasanya banyak diantara kita yang punya “penyakit” suka menunda-nunda pekerjaan. Penyakit ini, yang sebetulnya adalah kebiasaan, seringkali disebabkan karena kita malas mengerjakan sesuatu. Malas bangun dari tempat tidur, malas pergi olahraga, malas menyelesaikan tugas kantor, dll.
Menurut penelitian, kebiasaan malas merupakan penyakit mental yang timbul karena kita takut menghadapi konsekuensi masa depan. Yang dimaksud dengan masa depan ini bukan hanya satu atau dua tahun kedepan tetapi satu atau dua menit dari sekarang. Contohnya saja ketika Anda malas dari bangun, Anda akan berkata dalam hati: “Satu menit lagi saya akan bangun”, tetapi kenyataannya barangkali Anda akan berlama-lama di tempat tidur sampai akhirnya memang waktunya tiba untuk siap-siap pergi ke kantor.
Kebiasaan malas timbul karena kita cenderung mengaitkan masa depan dengan persepsi negatif. Anda menunda-nunda pekerjaan karena cenderung membayangkan setumpuk tugas yang harus dilakukan di kantor. Belum lagi berhubungan dengan orang-orang yang Anda tidak sukai, misalnya.
Sayangnya, menunda-nunda pekerjaan pada akhirnya akan mengundang stress karena mau tidak mau satu saat Anda harus mengerjakannya. Di waktu yang sama Anda juga mungkin punya banyak pekerjaan lain.
Dalam beberapa hal, Anda pun mungkin akan kehilangan momen untuk berkembang ketika Anda mengatakan “tidak” terhadap sebuah kesempatan –Anda malas bertindak karena bayangan negatif tentang hal-hal yang memberatkan didepan.
Di artikel ini saya ingin memberikan beberapa tips untuk mengatasi rasa malas. Tips ini bisa Anda praktekkan di tempat kerja ataupun lingkungan keluarga:
Ganti “Kapan Selesainya” dengan “Saya Mulai Sekarang”
Apabila Anda dihadapkan pada satu tugas besar atau proyek, Anda sebaiknya JANGAN berpikir mengenai rumitnya tugas tersebut dan membayangkan kapan bisa diselesaikan. Sebaliknya, fokuslah pada pikiran positif dengan membagi tugas besar tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan menyelesaikannya satu demi satu.
Katakan setiap kali Anda bekerja: “Saya mulai sekarang”.
Cara pandang ini akan menghindarkan Anda dari perasaan terbebani, stress, dan kesulitan. Anda membuat sederhana tugas didepan Anda dengan bertindak positif. Fokus Anda hanya pada satu hal pada satu waktu, bukan banyak hal pada saat yang sama.
Ganti “Saya Harus” dengan “Saya Ingin”
Berpikir bahwa Anda harus mengerjakan sesuatu secara otomatis akan mengundang perasaan terbebani dan Anda menjadi malas mengerjakannya. Anda akan mencari seribu alasan untuk menghindari tugas tersebut.
Satu tip yang bisa Anda gunakan adalah mengganti “saya harus mengerjakannya” dengan “saya ingin mengerjakannya”. Cara pikir seperti ini akan menghilangkan mental blok dengan menerima bahwa Anda tidak harus melakukan pekerjaan yang Anda tidak mau.
Anda mau mengerjakan tugas karena memang Anda ingin mengerjakannya, bukan karena paksaan pihak lain. Anda selalu punya pilihan dalam kehidupan ini. Tentunya pilihan Anda sebaiknya dibuat dengan sadar dan tidak merugikan orang lain. Intinya adalah tidak ada seorang pun di dunia ini yang memaksa Anda melakukan apa saja yang Anda tidak mau lakukan.
Anda Bukan Manusia Sempurna
Berpikir bahwa Anda harus menyelesaikan pekerjaan sesempurna mungkin akan membawa Anda dalam kondisi mental tertekan. Akibatnya Anda mungkin akan malas memulainya. Anda harus bisa menerima bahwa Anda pun bisa berbuat salah dan tidak semua harus sempurna.
Dalam konteks pekerjaan, Anda punya kesempatan untuk melakukan perbaikan berulang kali. Anda selalu bisa negosiasi dengan boss Anda untuk meminta waktu tambahan dengan alasan yang masuk akal. Mulai pekerjaan dari hal yang kecil dan sederhana, kemudian tingkatkan seiring dengan waktu. Berpikir bahwa pekerjaan harus diselesaikan secara sempurna akan membuat Anda memandang pekerjaan tersebut dari hal yang besar dan rumit.
Saya harap tulisan ini berguna. Kemalasan merupakan sesuatu yang normal dalam hidup Anda. Karena dia normal maka dia pun bisa diatasi. Tiga tips diatas bisa menjadi awal untuk berpikir dan bertindak berbeda dari biasanya sehingga Anda tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang hanya karena malas mengerjakannya.
< dikutip dari postingan al falaq arsendatama >
Menurut penelitian, kebiasaan malas merupakan penyakit mental yang timbul karena kita takut menghadapi konsekuensi masa depan. Yang dimaksud dengan masa depan ini bukan hanya satu atau dua tahun kedepan tetapi satu atau dua menit dari sekarang. Contohnya saja ketika Anda malas dari bangun, Anda akan berkata dalam hati: “Satu menit lagi saya akan bangun”, tetapi kenyataannya barangkali Anda akan berlama-lama di tempat tidur sampai akhirnya memang waktunya tiba untuk siap-siap pergi ke kantor.
Kebiasaan malas timbul karena kita cenderung mengaitkan masa depan dengan persepsi negatif. Anda menunda-nunda pekerjaan karena cenderung membayangkan setumpuk tugas yang harus dilakukan di kantor. Belum lagi berhubungan dengan orang-orang yang Anda tidak sukai, misalnya.
Sayangnya, menunda-nunda pekerjaan pada akhirnya akan mengundang stress karena mau tidak mau satu saat Anda harus mengerjakannya. Di waktu yang sama Anda juga mungkin punya banyak pekerjaan lain.
Dalam beberapa hal, Anda pun mungkin akan kehilangan momen untuk berkembang ketika Anda mengatakan “tidak” terhadap sebuah kesempatan –Anda malas bertindak karena bayangan negatif tentang hal-hal yang memberatkan didepan.
Di artikel ini saya ingin memberikan beberapa tips untuk mengatasi rasa malas. Tips ini bisa Anda praktekkan di tempat kerja ataupun lingkungan keluarga:
Ganti “Kapan Selesainya” dengan “Saya Mulai Sekarang”
Apabila Anda dihadapkan pada satu tugas besar atau proyek, Anda sebaiknya JANGAN berpikir mengenai rumitnya tugas tersebut dan membayangkan kapan bisa diselesaikan. Sebaliknya, fokuslah pada pikiran positif dengan membagi tugas besar tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan menyelesaikannya satu demi satu.
Katakan setiap kali Anda bekerja: “Saya mulai sekarang”.
Cara pandang ini akan menghindarkan Anda dari perasaan terbebani, stress, dan kesulitan. Anda membuat sederhana tugas didepan Anda dengan bertindak positif. Fokus Anda hanya pada satu hal pada satu waktu, bukan banyak hal pada saat yang sama.
Ganti “Saya Harus” dengan “Saya Ingin”
Berpikir bahwa Anda harus mengerjakan sesuatu secara otomatis akan mengundang perasaan terbebani dan Anda menjadi malas mengerjakannya. Anda akan mencari seribu alasan untuk menghindari tugas tersebut.
Satu tip yang bisa Anda gunakan adalah mengganti “saya harus mengerjakannya” dengan “saya ingin mengerjakannya”. Cara pikir seperti ini akan menghilangkan mental blok dengan menerima bahwa Anda tidak harus melakukan pekerjaan yang Anda tidak mau.
Anda mau mengerjakan tugas karena memang Anda ingin mengerjakannya, bukan karena paksaan pihak lain. Anda selalu punya pilihan dalam kehidupan ini. Tentunya pilihan Anda sebaiknya dibuat dengan sadar dan tidak merugikan orang lain. Intinya adalah tidak ada seorang pun di dunia ini yang memaksa Anda melakukan apa saja yang Anda tidak mau lakukan.
Anda Bukan Manusia Sempurna
Berpikir bahwa Anda harus menyelesaikan pekerjaan sesempurna mungkin akan membawa Anda dalam kondisi mental tertekan. Akibatnya Anda mungkin akan malas memulainya. Anda harus bisa menerima bahwa Anda pun bisa berbuat salah dan tidak semua harus sempurna.
Dalam konteks pekerjaan, Anda punya kesempatan untuk melakukan perbaikan berulang kali. Anda selalu bisa negosiasi dengan boss Anda untuk meminta waktu tambahan dengan alasan yang masuk akal. Mulai pekerjaan dari hal yang kecil dan sederhana, kemudian tingkatkan seiring dengan waktu. Berpikir bahwa pekerjaan harus diselesaikan secara sempurna akan membuat Anda memandang pekerjaan tersebut dari hal yang besar dan rumit.
Saya harap tulisan ini berguna. Kemalasan merupakan sesuatu yang normal dalam hidup Anda. Karena dia normal maka dia pun bisa diatasi. Tiga tips diatas bisa menjadi awal untuk berpikir dan bertindak berbeda dari biasanya sehingga Anda tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang hanya karena malas mengerjakannya.
< dikutip dari postingan al falaq arsendatama >
Selasa, 26 Januari 2010
Anda pernah dengar cerita perbedaan wortel dan tongkat?
Kalau belum, ijinkan saya bercerita singkat saja. Bayangkan anda baru saja memenangkan perlombaan lari. Saat di atas podium, sebagai hadiahnya anda diminta memilih antara wortel dan tongkat, kira-kira mana yang anda pilih?
Sebelum anda klik “baca selanjutnya”, tetapkan dulu pilihan anda.
Menurut cerita tersebut, bagi anda yang memilih wortel, menggambarkan kalau motivasi anda muncul karena didorong mendapatkan kesenangan. Kesenangan bisa berarti anda mendapat uang, reward, bonus, komisi, atau yang intinya mendatangkan kenyamanan.
Sedang bagi anda yang memilih tongkat menunjukkan kalau motivasi dalam diri anda cenderung muncul karena didorong oleh ketakutan. Artinya, anda akan jadi lebih bersemangat kalau anda sedang misalnya dibayang-bayangi ketakutan seperti takut jatuh miskin, takut digigit anjing sehingga anda bisa melompati pagar yang tinggi, dan berbagai ketakutan lainnya. Intinya anda lebih termotivasi untuk menghindari hal yang tak anda inginkan menimpa diri anda.
Apapun kemudian jenis sumber pendorong motivasi dalam diri anda, anda harus mengenalinya. Ini penting sebab dengan mengenali apa yang menjadi penyulut motivasi anda, anda tahu bagaimana cara membangkitkan motivasi dalam diri anda.
Contoh misalkan anda lebih termotivasi mendapatkan kesenangan, maka anda bisa pasang gambar rumah mewah impian anda di tembok dekat tempat tidur misalnya. Sedangkan bagi anda yang lebih termotivasi karena ketakutan, mungkin anda bisa pasang gambar rumah reyot yang tak ingin anda tempati. Setiap kali anda melihat gambar tersebut, percayalah anda akan bersemangat melakukan apa yang harusnya anda lakukan. Rasa malas akan sirna dari diri anda.
Lantas bagaimana jika ingin memotivasi orang lain?
< dikutip dari jokosusilodotkom >
Kalau belum, ijinkan saya bercerita singkat saja. Bayangkan anda baru saja memenangkan perlombaan lari. Saat di atas podium, sebagai hadiahnya anda diminta memilih antara wortel dan tongkat, kira-kira mana yang anda pilih?
Sebelum anda klik “baca selanjutnya”, tetapkan dulu pilihan anda.
Menurut cerita tersebut, bagi anda yang memilih wortel, menggambarkan kalau motivasi anda muncul karena didorong mendapatkan kesenangan. Kesenangan bisa berarti anda mendapat uang, reward, bonus, komisi, atau yang intinya mendatangkan kenyamanan.
Sedang bagi anda yang memilih tongkat menunjukkan kalau motivasi dalam diri anda cenderung muncul karena didorong oleh ketakutan. Artinya, anda akan jadi lebih bersemangat kalau anda sedang misalnya dibayang-bayangi ketakutan seperti takut jatuh miskin, takut digigit anjing sehingga anda bisa melompati pagar yang tinggi, dan berbagai ketakutan lainnya. Intinya anda lebih termotivasi untuk menghindari hal yang tak anda inginkan menimpa diri anda.
Apapun kemudian jenis sumber pendorong motivasi dalam diri anda, anda harus mengenalinya. Ini penting sebab dengan mengenali apa yang menjadi penyulut motivasi anda, anda tahu bagaimana cara membangkitkan motivasi dalam diri anda.
Contoh misalkan anda lebih termotivasi mendapatkan kesenangan, maka anda bisa pasang gambar rumah mewah impian anda di tembok dekat tempat tidur misalnya. Sedangkan bagi anda yang lebih termotivasi karena ketakutan, mungkin anda bisa pasang gambar rumah reyot yang tak ingin anda tempati. Setiap kali anda melihat gambar tersebut, percayalah anda akan bersemangat melakukan apa yang harusnya anda lakukan. Rasa malas akan sirna dari diri anda.
Lantas bagaimana jika ingin memotivasi orang lain?
< dikutip dari jokosusilodotkom >
kegagalan...!!!
Kenali kesalahan-kesalahan Anda dan belajarlah darinya, namun jangan pernah berkutat di dalamnya.
Orang Bodoh tidak pernah belajar dari kegagalannya.
Orang Pandai belajar dari kegagalan yang ia perbuat dan ia memperbaikinya.
Orang Bijak belajar dari kegagalan orang lain
Cara yang paling pasti untuk menghindari kegagalan adalah dengan tidak mencoba.
Gagal dan Sukses merupakan Satu paket menuju Sukses. Gagal hari ini bisa jadi Sukses Esok Hari.
Orang Bodoh tidak pernah belajar dari kegagalannya.
Orang Pandai belajar dari kegagalan yang ia perbuat dan ia memperbaikinya.
Orang Bijak belajar dari kegagalan orang lain
Cara yang paling pasti untuk menghindari kegagalan adalah dengan tidak mencoba.
Gagal dan Sukses merupakan Satu paket menuju Sukses. Gagal hari ini bisa jadi Sukses Esok Hari.
Ojo Ngrantes ugo ojo ngenes...!!
dikutip dari postingan
(Sucipto Hadi Purnomo, dosen Basa lan Sastra Jawa FBS Universitas Negeri Semarang/)
PANGGUNG drama politik kita katon saya melodramatis. Sansaya gawe ngenes lan nggrantes. Sansaya ngelingake sapa wae manawa jroning politik tansah kebak kewengisan lan tragedi agung. Ateges, tansah ana dhalang sing nggelar lakon ngenes, apa pancen ngenes lan nggrantese iku saka wohing panggawene dhewe?
Rasa sedhih sing matumpa-tumpa lan abot sanggane, bisa marakake ngenes. Panjangka sing tansah cabar lan tangeh kelakone, bisa marakake nggrantes. Akumulasi ngenes lan nggrantes mung dadi tlundhakan tumuju cutheling pengarep-arep. Mangka uruping urip mung ana ing pengarep-arep!
Sekawit, mbokmenawa mung gela. Dene jalarane gela bisa maneka warna. Nanging intine ora kelakon sing dadi gegayuhane, mleset saka sing dadi pengarep-arepe. Kuwi kira-kira sing dadi cikal bakale ngenes.
Lelakone Danapati
Sekawit Danapati mung bisa nggrantes, amarga tresnane marang Dewi Sukesi dianggep mung kandheg ing pepigginan. Sebab, mokal bisane dheweke minangkani pamundhute putrine Prabu Sumali kuwi.
Yen mung ngalahake pamane Sukesi, aran Patih Jambumangli, kanggone Danapati sing uga kesinungan kasekten, mesti bakal dilakoni. Nanging yen kudu mbabar sejatine Sastra Jendra Hayuningrat, tumrap Danapati sengara kelakone.
Tumrape Danapati, aja maneh kok mbabar, krungu arane wae lagi kuwi. Mula senajan dikaya ngapa katresnane marang Dewi Sukesi, raja mudha iku mung kudu meper marang sekabehing pepinginan.
Nanging pranyata uga ora gampang anggone meper, jalaran palakrama karo Dewi Sukesi tumrape Danapati ora mung pepenginan, nanging wis manjelma dadi prasetyaning ati. Dienthengke patine tinimbang ora bisa mengku wanita sing kanggone dheweke ayune ngungkuli widadari kuwi.
Jebul ramane, Begawan Wisrawa nyumurupi manawa putrane lagi nggrantes. Mula kanggo mberat panandhanging ati mau, sang Begawan arsa nyarirani pribadi, nglamar Dewi Sukesi kanggo putra kakunge sing banget ditresnani.
Mesthi wae Wisrawa uga wis nglenggana manawa ”ndhodhog kori nginang jambe suruh” iku bebasan ”golek banyu apikulan warih, golek geni adedamar”. Lire, bisa nglamar Sukesi yen nduwe sangu arupa kawruh Sastra Jendra Hayuningrat. Nanging anane sageh, mesthi kabeh mau wis kajiwa kasarira. Ora maido, jer Wisrawa mono jejere begawan sing wis buntas salwiring reh.
Sang Begawan banjur budhal, diuntabake dening pengarep-pengarepe Danapati. Pengarep-arep sing maone mung dadi panggrantes, bareng karo lakune Wisrawa pindhane bakal ”suwe mujet wohing ranti” kelakone. Kira-kira ngono batine Danapati.
Pancen akhire Wisrawa kelakon nglamar Sukesi. Wisrawa kuwawa njlentrehake werdine Sastra Jendra Hayuningrat, nanging Begawan sepuh mau jebul gagal jroing laku, laku Sastra Jendra.
Sukesi sing kudune dilamar kanggo putrane, malah dialap dhewe. Jroning sepi, nalikane mbabar ngelmu siningit mau, jebul sing ana amung lali. Wisrawa kudune diajap dadi putri mantu, nanging nyatane malah dirasuk dhewe.
Sapa nandur gundhuh, sapa nyilih mbalekake! Ing anggane Dewi Sukesi, Wisrawa pranyata nandur winihing nepsu, bibiting angkara. Jroning saresmi klawan Sukesi, Wisrawa temene amung ngrampas pengarep-arepe putrane dhewe. Mula tundhone, dheweke kudu mbalekake kabeh mau. Wisrawa kudu ngundhuh wohing panggawe.
Ora mung Danapati sing banjur nerusake panggrantese, nanging ing sisaning umur, Wisrawa kudu mungkasi uripe kanthi kebak rasa ngenes. Ngenes merga pokale dhewe.
Lelakone Drona
Mula, jroning kahanan sing kaya mangkono, apa sing banjur kudu ditindakake? Kelem karoban ing kesedhihan, tragedi, lan kengenesan? Utawa ”memasuh malaning bumi” kanthi gawe cabare lakon sing lagi dirantam dening dhalange kaanan? Sebab, pancen ora mokal, kaanan sing lumaku iki temene ana sing nyutradarani. Merga pancen ana wae dhalang sing pancen hobine nggelar lakon-lakon sing tragis, ngenes, lan gawe sing nonton saya nelangsa.
Upamane ora ana sing ndhalangi, ora bakal kelakon Drona mati ngenes kaya mangkono ing palagan Kurusetra. Sebab, yen bab kasekten, pandhita Sokalima mujudake gurune wong perang, kedhunge kasekten. Dene yen bab kawaskithan, ora ana loro ing jagading wayang kang bisa nuduhake dununge kayu gung susuhing agin lan tirta pawitra suci marang Bima, kejaba Drona.
Mula, ing medhan Kuru, sapa maneh sing bakal kuwawa ngadhepi Drona ya Kumbayana. Yen mung kanthi cara lawaran, mesti ora bakal ana sing bisa nandhingi. Drustajumena?
Drustajumena pancen wis pinilih kanggo nandhingi sang Pandhita. Nanging mesthi ora bakal nggandra sepiraa. Mula, Kresna minangka botohe Pandhawa banjur gawe rekadaya amrih ringkihe Drona. Drona kudu digawe nggrantes, Drona kudu digawe ngenes. Yen wis nggrantes, yen wis ngenes, lagi ditandangi.
Kresna nyumurupi manawa Drona banget tresnane marang putra siji-sijine: Aswatama. Kresna banjur utusan mateni gajah aran Hestitama. Marang barisaning Pandhawa, Kresna prentah supaya disebarake kabar manawa Aswatama mati.
Kabar-kabar mau keprungu tenan dening Drona. Salah sijining sanggit crita nyebutake, merga krungu kabar mau dadi kekes lan nggrantes atine senapatine Kurawa kuwi. Nanging sanggit cita liyane nyebutake, kekes, nggrantes, lan ngenese Drona merga Pandhawa, luwih-luwih Yudhistira, sing temene putra murid sing banget bektine marang dhewe jebul uga gelem goroh. Ngapusi gurune dhewe!
Jroning ati kekes, jroning ngenes, mesthi ilang otot bebayune Drona. Tumrap Drestajumena, ora pelu ngenteni luwih suwe, jroning swasana mangkono dheweke banjur nyampurnakake Drona. Pandhita Sokalima ngemasi.
Apa piwulang sing bisa dipethik saka crita loro mau? Ilange kawaspadan. Merga kurang waspada, gampang lal. Merga kurang waspada, gampang dipaeka denin liyane. Thukule nggrantes, thukle ngnes, temene uga aka awake dhewe.
Anane nggrantes, anane ngenes merga saka rumangsa wis entek pengarep-arep. Kudune tetep ana pengarep-arep supaya ora nganti nggrantes. Kudune isih ana kewanen kanggo tumandang mberat sakabehing kesedhihan supaya ora nganti ngenes. Kuwi prasyarat urube urip, supaya ora nganti mati ngenes. (35)
(Sucipto Hadi Purnomo, dosen Basa lan Sastra Jawa FBS Universitas Negeri Semarang/)
PANGGUNG drama politik kita katon saya melodramatis. Sansaya gawe ngenes lan nggrantes. Sansaya ngelingake sapa wae manawa jroning politik tansah kebak kewengisan lan tragedi agung. Ateges, tansah ana dhalang sing nggelar lakon ngenes, apa pancen ngenes lan nggrantese iku saka wohing panggawene dhewe?
Rasa sedhih sing matumpa-tumpa lan abot sanggane, bisa marakake ngenes. Panjangka sing tansah cabar lan tangeh kelakone, bisa marakake nggrantes. Akumulasi ngenes lan nggrantes mung dadi tlundhakan tumuju cutheling pengarep-arep. Mangka uruping urip mung ana ing pengarep-arep!
Sekawit, mbokmenawa mung gela. Dene jalarane gela bisa maneka warna. Nanging intine ora kelakon sing dadi gegayuhane, mleset saka sing dadi pengarep-arepe. Kuwi kira-kira sing dadi cikal bakale ngenes.
Lelakone Danapati
Sekawit Danapati mung bisa nggrantes, amarga tresnane marang Dewi Sukesi dianggep mung kandheg ing pepigginan. Sebab, mokal bisane dheweke minangkani pamundhute putrine Prabu Sumali kuwi.
Yen mung ngalahake pamane Sukesi, aran Patih Jambumangli, kanggone Danapati sing uga kesinungan kasekten, mesti bakal dilakoni. Nanging yen kudu mbabar sejatine Sastra Jendra Hayuningrat, tumrap Danapati sengara kelakone.
Tumrape Danapati, aja maneh kok mbabar, krungu arane wae lagi kuwi. Mula senajan dikaya ngapa katresnane marang Dewi Sukesi, raja mudha iku mung kudu meper marang sekabehing pepinginan.
Nanging pranyata uga ora gampang anggone meper, jalaran palakrama karo Dewi Sukesi tumrape Danapati ora mung pepenginan, nanging wis manjelma dadi prasetyaning ati. Dienthengke patine tinimbang ora bisa mengku wanita sing kanggone dheweke ayune ngungkuli widadari kuwi.
Jebul ramane, Begawan Wisrawa nyumurupi manawa putrane lagi nggrantes. Mula kanggo mberat panandhanging ati mau, sang Begawan arsa nyarirani pribadi, nglamar Dewi Sukesi kanggo putra kakunge sing banget ditresnani.
Mesthi wae Wisrawa uga wis nglenggana manawa ”ndhodhog kori nginang jambe suruh” iku bebasan ”golek banyu apikulan warih, golek geni adedamar”. Lire, bisa nglamar Sukesi yen nduwe sangu arupa kawruh Sastra Jendra Hayuningrat. Nanging anane sageh, mesthi kabeh mau wis kajiwa kasarira. Ora maido, jer Wisrawa mono jejere begawan sing wis buntas salwiring reh.
Sang Begawan banjur budhal, diuntabake dening pengarep-pengarepe Danapati. Pengarep-arep sing maone mung dadi panggrantes, bareng karo lakune Wisrawa pindhane bakal ”suwe mujet wohing ranti” kelakone. Kira-kira ngono batine Danapati.
Pancen akhire Wisrawa kelakon nglamar Sukesi. Wisrawa kuwawa njlentrehake werdine Sastra Jendra Hayuningrat, nanging Begawan sepuh mau jebul gagal jroing laku, laku Sastra Jendra.
Sukesi sing kudune dilamar kanggo putrane, malah dialap dhewe. Jroning sepi, nalikane mbabar ngelmu siningit mau, jebul sing ana amung lali. Wisrawa kudune diajap dadi putri mantu, nanging nyatane malah dirasuk dhewe.
Sapa nandur gundhuh, sapa nyilih mbalekake! Ing anggane Dewi Sukesi, Wisrawa pranyata nandur winihing nepsu, bibiting angkara. Jroning saresmi klawan Sukesi, Wisrawa temene amung ngrampas pengarep-arepe putrane dhewe. Mula tundhone, dheweke kudu mbalekake kabeh mau. Wisrawa kudu ngundhuh wohing panggawe.
Ora mung Danapati sing banjur nerusake panggrantese, nanging ing sisaning umur, Wisrawa kudu mungkasi uripe kanthi kebak rasa ngenes. Ngenes merga pokale dhewe.
Lelakone Drona
Mula, jroning kahanan sing kaya mangkono, apa sing banjur kudu ditindakake? Kelem karoban ing kesedhihan, tragedi, lan kengenesan? Utawa ”memasuh malaning bumi” kanthi gawe cabare lakon sing lagi dirantam dening dhalange kaanan? Sebab, pancen ora mokal, kaanan sing lumaku iki temene ana sing nyutradarani. Merga pancen ana wae dhalang sing pancen hobine nggelar lakon-lakon sing tragis, ngenes, lan gawe sing nonton saya nelangsa.
Upamane ora ana sing ndhalangi, ora bakal kelakon Drona mati ngenes kaya mangkono ing palagan Kurusetra. Sebab, yen bab kasekten, pandhita Sokalima mujudake gurune wong perang, kedhunge kasekten. Dene yen bab kawaskithan, ora ana loro ing jagading wayang kang bisa nuduhake dununge kayu gung susuhing agin lan tirta pawitra suci marang Bima, kejaba Drona.
Mula, ing medhan Kuru, sapa maneh sing bakal kuwawa ngadhepi Drona ya Kumbayana. Yen mung kanthi cara lawaran, mesti ora bakal ana sing bisa nandhingi. Drustajumena?
Drustajumena pancen wis pinilih kanggo nandhingi sang Pandhita. Nanging mesthi ora bakal nggandra sepiraa. Mula, Kresna minangka botohe Pandhawa banjur gawe rekadaya amrih ringkihe Drona. Drona kudu digawe nggrantes, Drona kudu digawe ngenes. Yen wis nggrantes, yen wis ngenes, lagi ditandangi.
Kresna nyumurupi manawa Drona banget tresnane marang putra siji-sijine: Aswatama. Kresna banjur utusan mateni gajah aran Hestitama. Marang barisaning Pandhawa, Kresna prentah supaya disebarake kabar manawa Aswatama mati.
Kabar-kabar mau keprungu tenan dening Drona. Salah sijining sanggit crita nyebutake, merga krungu kabar mau dadi kekes lan nggrantes atine senapatine Kurawa kuwi. Nanging sanggit cita liyane nyebutake, kekes, nggrantes, lan ngenese Drona merga Pandhawa, luwih-luwih Yudhistira, sing temene putra murid sing banget bektine marang dhewe jebul uga gelem goroh. Ngapusi gurune dhewe!
Jroning ati kekes, jroning ngenes, mesthi ilang otot bebayune Drona. Tumrap Drestajumena, ora pelu ngenteni luwih suwe, jroning swasana mangkono dheweke banjur nyampurnakake Drona. Pandhita Sokalima ngemasi.
Apa piwulang sing bisa dipethik saka crita loro mau? Ilange kawaspadan. Merga kurang waspada, gampang lal. Merga kurang waspada, gampang dipaeka denin liyane. Thukule nggrantes, thukle ngnes, temene uga aka awake dhewe.
Anane nggrantes, anane ngenes merga saka rumangsa wis entek pengarep-arep. Kudune tetep ana pengarep-arep supaya ora nganti nggrantes. Kudune isih ana kewanen kanggo tumandang mberat sakabehing kesedhihan supaya ora nganti ngenes. Kuwi prasyarat urube urip, supaya ora nganti mati ngenes. (35)
Minggu, 24 Januari 2010
2010
ketika ego kita meraja....
apa yang terjadi pada diri kita...??
yang muncul cuma kesombongan yang pada akhirnya orang lain akan memberikan penilaian yang negatif pada diri kita..!!
terkadang kita sadar dan sepenuhnya sadar tetapi kita masih terlalu naif untuk mengakuinya..!!
oh... Gusti susahnya menjadi orang yang "gentle"
apa yang terjadi pada diri kita...??
yang muncul cuma kesombongan yang pada akhirnya orang lain akan memberikan penilaian yang negatif pada diri kita..!!
terkadang kita sadar dan sepenuhnya sadar tetapi kita masih terlalu naif untuk mengakuinya..!!
oh... Gusti susahnya menjadi orang yang "gentle"
Label:
skuter
Langganan:
Komentar (Atom)
